Menang Tipis, PSIS Semarang Berhasil Tipu PS Tira

Menang Tipis, PSIS Semarang Berhasil Tipu PS Tira

PS Tira harus kalah tipis 0-1 dari PSIS Semarang ketika memberi jamuan di Stadion Sultan Agung (SSA), Kabupaten Bantul, Rabu (17/10).

Bekerja samadengan bagus antar Ibrahim Conteh serta Bruno Silva berbuah buah manis.

Saat laga sudah berjalan hingga menit ke-41, Bruno sukses menyarangkan gol menuju gawang PS Tira serta menghantarkan hasil positif untuk skuat berjulukan Mahesa Jenar ini.

Sukses unggul dengan gol solo, manajer PSIS Semarang, Jafri Sastra, mengakui sempat waspada dengan performa PS Tira.

“Alhamdulillah, PS Tira terjebak dengan performa kami, ” tutur Jafri.

“Kami kemarin amat takut apabila PS Tira berlaga dengan tempo tinggi, ” lanjutnya.

Tidak dibantah oleh juru tak-tik dari Sumatra Barat ini, situasi anak-anak asuhnya tengah tak kunjung bugar.

“Kami bersyukur dengan hasil positif itu. Anak-anak dalam situasi tengah lelah, namun masih dapat mendapat 3 angka melalui laga itu, ” katanya.

Sekarang, PSIS mengendarai menuju 10 besar papan klasemen sementara Liga 1 2018 bersama koleksi angka 33.

Kisah Seorang Pelatih Sevilla yang Kalahkan Barcelona dan Real Madrid

Kisah Seorang Pelatih Sevilla yang Kalahkan Barcelona dan Real Madrid

Manajer Sevilla FC, Pablo Machin, menarik perhatian usai menghantarkan skuatnya memimpin atas FC Barcelona, Real Madrid, sampai Atletico Madrid di klasemen sementara Liga Spanyol awal kompetisi musim ini.

Dibawah bimbingan Pablo Machin, Sevilla naik menuju pucuk klasemen Liga Spanyol sampai Matchday ke 8 di atas Barcelona, Atletico Madrid, serta Real Madrid.

Kiprah Pablo Machin merebut diuraikan sebab bisa mendongkrak skuatnya melewati 3 tim itu pada kompetisi musim debut di Sevilla.

Machin ditunjuk menjadi juru tak-tik Sevilla per Mei 2018 usai menghantarkan Girona bermain mengesankan musim kemarin.

Sebelum tenar sebagaimana kini, lelaki Spanyol berumur 43 tahun ini punya latar belakang langka.

Ia tidak memiliki warisan garis keturunan pesepakbola serta cuma melakoni karier sejak menjadi pesepakbola. Bapaknya merupakan petani gandum serta barley di Soria.

Pablo Machin pun sempat mengajar di sekolah menjadi guru pendidikan jasmani.

“Sempat merasa apabila karier aku gagal menjadi juru tak-tik, aku bakal mengajar lagi ataupun balik lagi naik traktor serta jadi petani sebagaimana bapak, ” jelasnya, dilansir BolaSport. com melalui Marca edisi Maret 2018.

Machin, bekas pemain bertahan sebelah kanan, pernah membela tim kecil CD Numancia pada musim 1993-1994, namun secara langsung gantung sepatu dini di dalam umur 23 tahun sebab cedera lutut.

“Aku mengerti bukanlah bintang paling baik, menjadi aku merasa jadi juru tak-tik. Aku senang memberikan anjuran pada rekan satu tim serta mengerti setingkat lebih pantas menangani ketimbang berlaga, ” jelasnya.

Pablo Machin lekas menangani tim waktu belianya, Numancia, pada tahun 2006 sebelum menyetujui kesepakatan kontrak di Girona pada 2014.

Kala itu, Girona tengah, berkutat di divisi 2, kemudian mendapat naik kasta buat kali perdana menuju ke La Liga Spanyol pada tahun 2017.

Machin mengukir popularitas sebab menghantarkan skuat kurcaci dari Catalonia tersebut lolos sepuluh papan atas klasemen pada kompetisi musim debut di divisi tertinggi.

Pencapaian bekerja Machin diteliti Sevilla, yang menunjuknya jadi juru tak-tik bursa transfer musim panas tahun silam.

Sevilla pada pertama kampanye musim itu segera menuai kemenangan melalui sentuhan Machin sampai bercokol di tempat tertinggi klasemen berbekal enam belas angka melalui delapan pertandingan.

“Aku tidak menyaksikan papan klasemen serta cuma memusatkan perhatian melakoni pertandingan di muka. Team saya tidak menganalisis tempat di liga hingga skuat tidak menderita vertigo, ” katanya pada Football Espana.

Ferdinand Sebut Lukaku Adalah Musuh Idaman Bek Lawan

Ferdinand Sebut Lukaku Adalah Musuh Idaman Bek Lawan

Legenda Manchester United, Rio Ferdinand, memberikan kritikan kepada Romelu Lukaku setelah pertandingan Liga Champions antara Setan Merah melawan Valencia.

Ferdinand mengutarakan itu sehabis Manchester United cuma mengklaim hasil seri melawan Valencia di pertandingan ke 2 Liga Champions, Selasa (2/10) Rabu malam WIB.

Lukaku dianggap bertanggung jawab vs ketidakmampuan Setan Merah menyarangkan goal selama Waktu normal pertandingan yang dimulai pada Old Trafford tersebut.

“Dia mudah guna dijaga pemain bertahan sekarang lantaran ia cuma berdiri diam, ” tutur Ferdinand pada BT Sport, dicuplik BolaSport. com.

“Anda tak menyaksikan beberapa pergerakan, khususnya saat performa tengah meningkat pada wilayah sentral gelanggang yang belum lama ia lewati, ” tutur mantan pemain bertahan tim nasional Inggris ini.

Ferdinand memperhitungkan Lukaku seharusnya sering pindah, walau menjadikannya akan berdiri offside pernah.

Hal tersebut seperti dilansir kakak Anton Ferdinand itu setidak-tidaknya akan membikin pemain bertahan rival kebingungan.

“Dia seharusnya pindah, malahan apabila dia berdiri offside, membikin para pemain bertahan memikirkan, ” katanya

“Saat itu, para pemain bertahan menyaksikan persis pada mana Lukaku ada. Ia tak pindah, menjadi Kamu paham apakah yang ia kerjakan, ” kata Ferdinand sedang.

Saking buruknya performa Lukaku, mantan pemain bertahan paling mahal sejagat ini mengatakan sang ujung tombak merupakan rival yang diidam-idamkan dengan para pemain bertahan rival.

“Untuk sosok pemain bertahan, melawan Lukaku merupakan cita-cita, ” jelasnya.

Performa Lukaku di pertandingan melawan Valencia memang tidak dapat dianggap bagus.

Whoscored memberi nilai enam, tiga bareng Nemanja Matic, poin paling rendah pada antar bintang-bintang utama Manchester United pada pertandingan itu.

Lebih lanjut, striker dari Belgia itu baru berhasil membuat tendangan awal saat laga sudah berjalan hingga menit ke-71 walau berlaga semenjak menit perdana.

Jumlah 4 tendangan Lukaku, cuma 2 yang soal target, namun tidak berakibat goal.